Kamis, 10 Oktober 2019

Tugas Teknik observasi & wawancara (menganalisis berita dalam koran)

Dalam koran Jawa Pos edisi Rabu, 9 Oktober 2019, halaman 15 Mengenai Politik & Pemerintah , saya mendapatkan tugas dari dosen mata kuliah Teknik Observasi dan Wawancara Politeknik Negeri Jakarta bapak Cecep Gunawan untuk menganalisis sumber berita apakah koran yang saya baca, apakah bersumber pada fakta peristiwa,atau pada fakta pendapat.

Berita 1.
Pembentukan AKD Tak Kunjung Terlaksana (Riz/co5/fai)

      GAMBIR, Jawa Pos - Pembentukan Alat Kelengkapan Dewan (AKD) DPRD DKI hingga kini tak kunjung terealisasi. Sebab, untuk membentuk komisi dan badan harus ada pimpinan dewan definitif yang mengesahkan rancangan tata tertib (tatib) sebagai panduan bekerja para wakil rakyat ibu kota periode 2019-2024.
   
     Dalam berita ini menurut pendapat saya bersumber pada fakta pendapat karena disana disebutkan bahwa menurut pandangan penulis pembentukan Alat Kelengkapan Dewan (AKD) DPRD DKI hingga kini tak kunjung terealisasikan. Tidak hanya itu Nainggolan ketua sementara DPRD DKI mengungkapkan bahwa pengambilan sumpah lima pimpinan definitif masih menunggu surat keputusan pemerintah dari kementerian dalam negeri (kemendagri). Wakil ketua sementara DPRD DKI Syarif berharap surat dari kemendagri terbit pekan ini. “ Saya belum tahu (kapan turun, red), tapi Saya mengharapkan Rabu (Hari ini 09/10/19) sudah turun ungkapnya.



Berita 2.

Bangun Kembali Akuarium (rya/col/fai)

     GAMBIR, Jawa Pos - Gubernur DKI Anies Baswedan berencana menata kembali Kampung Akuarium tahun depan. Penataan kampung di Jakarta Utara yang pernah di gusur mantan Gubernur DKI Basuki T.Purnama pada 2016 itu di sebut akan melibatkan warga setempat. Yakni, program penataan kampung dengan sistem community action plan (CAP).

        Dalam berita ini menurut pendapat Saya merupakan berita yang bersumber pada fakta pendapat karena Rencana penataan tersebut disampaikan Anies setelah mengunjungi Kampung Akuarium pada Minggu (6/10). Dalam kunjungannya itu, dia berencana menjadikan Kampung Akuarium sebagai Kampung bahari yang ramah lingkungan. Bukan hanya itu, dia ingin menjadikan Kampung Akuarium sebagai kampung yang menghormati situs sejarah di sekitar palabuhan Sunda Kelapa. Berikut adalah kutipannya “ Iya (akan dilakukan penataan) Insya’Allah, 2020 kami lakukan pembangunannya, kata Anies di TPU Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Kemarin (8/10). Lantaran masih proses perencanaan, dia belum bisa memerinci. “ Nanti ada peluncuran gambarnya, desainnya, sekaligus rencana detailnya, ” sambung mantan Mendikbud itu.

Berita 3.

Mahal Karena Cagar Budaya (rya/col/fai)

   GAMBIR, Jawa Pos - Renovasi rumah dinas (rumdin) gubernur DKI direncanakan tahun depan. Anggaran yang disediakan untuk pengerjaan itu sebesar Rp. 2,42 miliar. Pemprov DKI telah menganggarkannya dalam kebijakan umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran sementara (KUA-PPAS).

      Menurut pendapat Saya berita ini bersumber pada berita fakta pendapat, karena berisikan pendapat seseorang yang bernama Heru Hermawanto yang merupakan Kepala Dinas Cipta Karya, tata ruang, dan pertahanan DKI menuturkan, banyak perbaikan yang dilakukan dalam rehab rumah dinas gubernur. Karena karena bangunan itu berada dilokasi cagar budaya, renovasinya dibuat sesuai dengan prosedur cagar budaya. Menurut dia, kondisi beberapa bagian bangunan sudah cukup buruk sehingga mutlak dilakukan rehab. Hal itu dinilai wajar. Sebab, rumah dinas dijalan Taman Suropati Nomor 7, Menteng, Jakarta Pusat, tersebut kali terakhir direnovasi ketika DKI masih dipimpin Sutioso. “ kalau renovasi besar, belum pernah. Hanya tambel-tambel gitu lah,” ujarnya kemarin (8/10).


Berita 4.

Kembakan Sistem Kuliah Online (sha/co5/fai)

    Pasar Minggu, Jawa Pos - Kuliah Online atau e-learning yg disebut juga kuliah jarak jauh tidak mengharuskan mahasiswa datang menghadiri kelas di kampus. Dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi teleconference, materi pelajaran tersedia secara online. Dosen dan mahasiswa bisa berdiskusi secara online.

      Menurut pendapat saya berita ini bersumber pada fakta pendapat karena menurut pandangan sesorang mahasiswa yang bernama Yeni,18, adalah mahasiswa Fakultas ilmu sosial dan Ilmu politik Universitas Nasional (unas) menyebutkan bahwa sistem pembelajaran online sedikit merepotkan. Sebab, dia termasuk salah seorang mahasiswa yang suka dengan cara belajar bertatap muka. “Kalau dilihat dari segi waktu, memang kuliah online sangat mempermudah. Dari segi lain, kuliah ini sangat merepotkan. Jadi, ya ada plus minusnya,” ucapnya kemarin (8/10).


Berita 5.

Siap Hadapi Tantangan Era Digital.Guru dan Siswa mesti Manfaatkan Teknologi (gin/co5/fai)


    SETIABUDI, Jawa Pos - Indonesia bisa menjadi negara maju dengan mengandalkan bonus demografi yang dinikmati sampai 2045. Sayang, sumber daya manusia (SDM) yang unggul belum bisa terpenuhi seluruhnya. Hal itu diterangai dengan belum meratannya akses pendidikan diseluruh Indonesia.

     Menurut pendapat saya berita ini bersumber pada fakta pendapat karena berisikan pendapat seseorang mengenai suatu hal seperti pada kutipanya. “Apalagi akses pendidikan di daerah. Antara kota dan daerah masih ada ketimpangan dalam hal pemerataan pendidikan,” kata staf khusus Mentri Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Danang R.Ginanjar. Menurut Danang Indonesia perlu mempercepat peningkatan kualitas SDM unggul melalui akses pendidikan yang merata. Ditambah, saat ini, Indonesia tengah menghadapi revolusi Industri 4.0 Persaingan dalam perkerjaan kini berubah. Manusia tidak lagi bersaing antar manusia, tetapi pekerjaannya sudah digantikan mesin. “Ke depan, 60 persen pekerjaan manusia digantikan sistem otomatis dan 30 persen di gantikan mesin,” katanya di Dinas Pendidikan (dispendik) DKI.



Berita 6.

Museum Harus Lepas Dari Kesan Kuno (gin/co4/fai)


     TAMAN SARI, Jawa Pos - Perkembangan era digital tidak hanya mengubah tatanan Pendidikan. Lebih dari itu, semua lini mesti cepat beradaptasi dengan teknologi digital agar tidak kehilangan arah. Termasuk pengelolaan museum. Jika tidak berbenah, museum semakin hanya dijadikan untuk tempat penyimpanan artefak.

      Menurut pendapat saya berita ini termasuk pada fakta pendapat. Bukti yang menerangkannya adalah Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Fitra Arda menyatakan, museum mestinya tidak hanya dianggap sebagai tempat penyimpanan artefak. Bisa jadi, mayarakat enggan datang ke museum karena bersifat monoton. Tidak ada interaksi dan pertukaran informasi dari dua arah. “Museum harusnya tidak lagi menceritakan kekunoan, tetapi perlu ditambahkan unsur kekinian dan masa depan,” tegas Fitri di museum Bank Indonesia, Taman Sari Jakarta Barat.





Kania Nurhaliza
PB 1A

Tidak ada komentar:

Posting Komentar