Nama : Kania Nurhaliza
Nim : 1906321051
Kelas : PB2A
Jawaban
1. Dokumen Tekstual adalah dokumen yang menyajikan informasi dalam bentuk tertulis. Misalnya : majalah, buku, catalog, surat kabar dll.
Dokumen Fisik adalah dokumen yang menyangkut materi ukuran, berat, tata letak, sarana prasarana, dan sebagainya. Dengan kata lain dokumen jenis ini berupa berkas surat-surat.Contoh : Akta, Ijazah, dll.
2. Dokumen adalah segala sesuatu yang ditulis maupun dicetak sebagai bukti atau keterangan. Pengertian lain Dokumen merupakan segala benda yang berbentuk barang,gambar,ataupun tulisan sebagai bukti dan dapat memberikan keterangan yang penting dan absah.
3. Dokumen = merupakan bendanya (berkas-berkasnya), sedangkan
Dokumentasi = berupa aktivitas nya.
4. - Dokumen adalah segala benda yang berbentuk barang,gambar,ataupun tulisan sebagai bukti dan dapat memberikan keterangan yang penting dan absah. Sedangkan,
- Arsip adalah rekaman kegiatan atau peristiwa dalam berbagai bentuk dan media sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Arsip tidak hanya berupa dokumen berbentuk kertas tunggal maupun kelompok tapi juga berupa rekaman informasi dalam berbagai media sesuai dengan perkembangan zaman, semisal kaset, CD/DVD, atau media lainnya sesuai dengan perkembangan zamannya. Dan untuk penyerahan arsip itu sendiri tidak harus dari suatu badan atau organisasi baik pemerintah maupun swasta tapi bisa juga dari perorangan. Arsip masih digunakan untuk melaksanakan pekerjaan sehari- hari baik sering maupun hanya jarang.
5. Dengan Menampilkan kembali data dan fakta dari peristiwa sebelumnya. Jadi maksudnya Penyajian berita yang diberikan oleh seorang jurnalis bisa dengan memasukan ataupun mengingatkaan bahan berita yang telah terjadi di masa lampau yakni dengan dokumen yang ada pada waktu itu dan itulah pentingnya sebuah dokumen untuk mengulas kembali peristiwa yang pernah terjadi sehingga pemberitaan yang tersaji lebih menarik minat pembaca.
6. Memahami Penyebab Banjir yang Selalu Melanda Jakarta
Cuaca esktrem dan saluran drainase yang tidak maksimal membuat Jakarta semakin sering dilanda banjir.
Banjir melanda sejumlah wilayah di DKI Jakarta sejak akhir pekan lalu hingga kemarin, Rabu (26/2). Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan banjir bulan ini paling parah terjadi di Jakarta Timur, dengan 25 kelurahan yang terdampak dan 758 individu yang mengungsi. Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) menyebut penyebab banjir tahun ini adalah cuaca ekstrem. Hujan deras sempat mengguyur ibu kota pada Senin pukul 07.00 WIB hingga hari berikutnya di jam yang sama.
Fenomena cuaca ekstrem yang melanda Indonesia sejak awal 2020 erat kaitannya dengan perkembangan perubahan iklim. Hal ini pun sesuai dengan proyeksi BMKG. Menurut lembaga itu, seperti dilaporkan Kompas.com, perubahannya telah dimulai pada 1900an. Kepala BMKG Dwikorta Karnawati mengutarakan curah hujan tertinggi terjadi pertama kali pada tahun 1918, kemudian berulang pada tahun 1950. Artinya, cuaca ekstrem berulang lebih 30 tahun. "Tahun berikutnya semakin singkat selisihnya,” kata Dwikorta.
Penyebab Jakarta Sering Kebanjiran
Pada 2020 tercatat sudah tiga kali banjir terjadi di Jakarta, terhitung sejak awal pergantian tahun. Kejadian serupa juga pernah terjadi sebelumnya. BMKG mencatat banjir besar pernah terjadi di ibu kota pada Januari dan Februari 1918, Januari 1979, Februari 1996, Februari 2007, Januart dan Februari 2013, dan pergantian tahun 2019 ke 2020. Lantas, apa yang menyebabkan banjir terus melanda Jakarta?
1. Penurunan Permukaan Tanah
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo, melansir dari CNNIndonesia.com, mengatakan salah satu penyebab banjir Jakarta adalah akibat pengambilan air tanah yang cukup banyak. Kondisi ini menyebabkan permukaan tanah semakin menurun di bawah permukaan laut.
2. Saluran Pembuangan Tersumbat
Banjir juga disebabkan oleh banyak tempat pembuangan saluran air yang tersumbat. Populasi sampah sering menumpuk di bagian hilir sungai. Genangan air dengan mudah muncul apabila alirannya tersumbat oleh sampah.
3. Pembuangan Limbah ke Sungai
Selain pencemaran sampah, menurut penelitian dalam jurnal Teknologi Lingkungan (2002) milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), banjir di DKI Jakarta juga disebabkan oleh pencemaran limbah industri dan rumah tangga.
Perilaku masyarakat dan industri yang gemar membuang limbah dan kotoran ke sungai menyebabkan pendangkalan dan penyempitan. Kemampuan sungai dalam menampung dan mengalirkan air hujan kian menurun.
4. Salah Kaprah Masyarakat tentang Sungai
Penelitian tersebut melanjutkan, konsepsi nilai budaya masyarakat yang melihat sungai sebagai tempat pembuangan sampah yang praktis dan murah semkin memperburuk keadaan. “Dari sudut pandang antropologis, kecenderungan masyarakat untuk membuang limbah dan kotoran ke sungai telah menjadi adat dan kebiasaan sejak dulu kala, jauh sebelum adanya sarana dan prasarana sanitasi,” papar penelitian tersebut.
Keterangan : Dalam berita tersebut banyak dokumen yang diperlukan dalam proses penyajiannya seperti dokumen-dokumen lama terkait banjir juga,dan dokumen dari pihak BMKG itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar